Laman

Kamis, 14 Juli 2011

Peran Math Games sebagai Penunjang dalam Kegiatan Instruksional

Abstrak

Perkembangan teknologi yang begitu pesat juga ditandai dengan peningkatan penggunaan komputer sebagai media pembelajaran interaktif. Di dalam tulisan ini, akan difokuskan bagaimana peran educational Math games sebagai saran penunjang dalam kegiatan instruksional di dalam kelas. Game-game yang akan diulas diambil dari www.primarygames.com. Topik pembahasan dari tulisan ini yaitu mengungkap cakupan skill yang dapat diperoleh melalui Math games di dalam situs ini, membandingkan aspek-aspek human-based dan computer-based dalam kegiatan intruksional sebagai media interaktif, mengidentifikasi kontribusi Math games dalam kegiatan intruksional di dalam kelas, serta melihat sejauh mana keefektifan perpaduan human-based dan computer-based sebagai media interaktif dalam kegiatan instruksional. 
Kata Kunci: game, human-based, computer-based, media interaktif, kegiatan instruksional

I. Pendahuluan
www.primarygame.com dibuat pertama kali oleh Susan Shuey Beasley, seorang technology support specialist di Thomas Jefferson High School. Permainan-permaianan ini semula dibuat untuk para siswanya saja. Namun melihat perkembangan popularitas dari permainan-permainan ini, selanjutnya, Susan mengembangkan situs ini agar dapat digunakan oleh anak-anak di seluruh dunia. Situs ini sebenarnya menyediakan banyak aktifitas edukatif, namun seperti yang sudah disebutkan di atas, tulisan ini hanya akan memfokuskan pada Math games.

II. Cakupan Skill
Ada 61 Math games yang bisa dimainkan. Permainan-permainan tersebut didesain untuk para siswa mulai dari Pre-Kindergarten, Kindergarten, dan Elementary kelas 1 hingga kelas 4. Topik-topik pelajaran di dalam permainan-permainan tersebut juga mempunyai cakupan yang sangat variatif yaitu Number Sense, Addition, Subtraction, Multiplication, Operations, Counting, Patterns, Shapes, Measurement, Problem Solving, Positive and Negative Numbers, Matching and Sorting, Geometry, Spatial Relations, Angles, Fractions, Logic, Money, Ordinal Numbers, dan Time.

III. Perbandingan Pendekatan Human-based dan Computer-based dalam Kegiatan Instruksional
A. Pendekatan Human-based
Pendekatan human-based dalam kegiatan instruksional dapat dilakukan dengan banyak cara misalnya tanya jawab langsung, role play, kerja kelompok, debat, diskusi, permainan dan masih banyak lagi. Dari semua cara tersebut, guru memainkan peranan yang signifikan entah sebagai instruktur, tutor, maupun fasilitator.

Beberapa keuntungan yang didapatkan melalui pendekatan human-based dalam kegiatan instruksional dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Dalam pendekatan ini, interaksi yang terjadi melibatkan emosi kedua belah pihak. Interaksi emosi yang tidak bisa didapatkan melalui interaksi dengan teknologi. Guru dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan siswa secara komunikatif dan bahkan provokatif.
Rowntree (1974) mengatakan “Face-to-face, teachers and students (and others) can bring together diverse and conflicting viewpoints and, by challenge and questioning, provoke the individual to feel and think, helping him assimilate his experience through communication with others.” Dalam hal ini, motivasi afektif yang diberikan guru dapat menginspirasi dan menumbuhkan semangat belajar siswa dengan efektif. Walaupun demikian, emosi negatif yang muncul kerap kali juga menjadi hambatan ketika emosi tersebut mempengaruhi mood dalam kegiatan instruksional di dalam kelas. Rowntree menambahkan “Problems with motivation really arise only when we try to teach people things they don’t want to know.” Ketika aktivitas instruksional yang diberikan tidak dapat menarik perhatian siswa, maka akan muncul keenggannan untuk terlibat aktif di dalamnya.

2. Guru dalam melakukan kegiatan intruksional yang bersifat human-based dapat melakukan evaluasi desain instruksionalnya dengan segera serta mampu melakukan modifikasi-modifikasi yang memungkinkan untuk perbaikan. Pengulangan penjelasan, perubahan materi, penggunaan alat peraga yang lebih relevan dan pengadaan latihan-latihan remedial dapat terus dikontrol dan dilakukan.

B. Pendekatan Computer-based
Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, pendekatan computer-based mulai banyak dilakukan untuk menunjang kegiatan instruksional did ala kelas. John Dewey (1944) beranggapan bahwa game mulai memainkan peran pentingnya dalam metodologi pembelajaran.

Dalam pendekatan dengan computer-based, ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh siswa yang dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Untuk kebanyakan anak-anak, dan bahkan orang dewasa, game mampu memberikan kesenangan dan hiburan yang sangat digemari. Jika dikemas dengan kegiatan edukatif, akan sangat membantu meningkatkan motivasi belajar dan fokus siswa karena menghilangkan rasa jenuh yang mungkin didapatkan dalam mengikuti kegiatan instruksional di dalam di kelas.

Oblinger menyebutkan “When introduced into the classroom, they can become the center of cognitive gravity, pulling all other resources into their orbit of praxis.” Ada banyak jenis permainan dalam situs ini yang memberikan hiburan edukatif dan menyenangkan kepada siswa. Misalnya permainan Even & Odd yang mengenalkan konsep bilangan melalui cerita atau juga permainan Coin Weighing yang mengenalkan konsep berat melalui game yang menarik. Selain mempelajari sebuah konsep baru, melalui permainan-permainan tersebut siswa mendapatkan aktifitas yang menyenangkan.

2. Siswa dapat menemukan fleksibilitas untuk mengatur kegiatan belajarnya sendiri. Kapan memulai dan kapan berhenti untuk bermain game dapat sedemikian rupa untuk disesuaikan waktunya dengan kegiatan lainnya karena banyak game tidak membutuhkan instruktur yang terus mengawasi misalnya permainan LAFFY TAFFYtris, Gaps Solitaire, dan Little Rocketman.

3. Siswa dapat lebih meningkatkan kepercayaan dirinya. Anak yang kurang aktif dalam diskusi di kelaspun akan merasa lebih percaya diri dalam belajar. Poin ini berkorelasi dengan tumbuhnya motivasi belajar siswa. Misalnya melalui Arithmetic Game, siswa dapat mendalami topik pelajaran secara individual tanpa melibatkan interaksi klasikal dan massal.

4. Kegiatan instruksional akan mengarah pada student-centered daripada teacher-centered. Setelah mengerti cara permainannya, siswa mampu berperan aktif melalui media permainan. Peran guru lebih kepada pengarahan bagaimana mengoperasikan permainan serta memilihkan permainan yang sesuai dengan topik bahasan.Karena situs ini juga menyediakan kurikulum yang dapat dipakai sebagai acuan untuk guru, maka akan lebih memudahkan guru untuk mencari permainan-permainan yang sesuai dengan topik pelajaran.

5. Melalui game, siswa juga mampu menguatkan kemampuan-kemampuan dasar serta mengembangkan kemampuan-kemampuan baru. Lebih spesifik lagi, game juga mengembangkan pemikiran logis dan matematis siswa. Siswa mampu menjadikan konsep-konsep matematis yang abstrak menjadi konkret. Misalnya dalam permainan Fishy Count siswa mendapat media visual untuk melakukan operasi hitung.

6. Game mampu memberikan immediate reward yang dapat dijadikan siswa parameter kemampuannya, serta kemudian dipakai untuk titik tolak menerapkan prosedur-prosedur atau strategi-strategi yang baru. Prensky (2001) menyebutkan bahwa “the challenge for teachers is to understand the great importance of immediate reward for the young, and to find ways of offering significant rewards instead of advising things that will be rewarded in the long term.” Bagi banyak siswa, pemberian reward yang instan mampu memberikan kepuasan dan kebanggaan yang mampu membangkitkan gairah belajar yang kontinyu.

IV. Keefektifan Kolaborasi Human-based dan Computer-based dalam Kegiatan Instruksional
Kedua pendekatan human-based dan computer-based mempunyai keuntungannya masing-masing bagi siswa yang tidak bisa ditemukan di pihak lain. Adalah akan lebih menguntungkan jika guru mampu mengembangkan kolaborasi keduanya dalam membuat desain instruksionalnya.

Permainan-permainan yang tersedia dalam situs ini dapat difungsikan sebagai berikut:
1. Sebagai tunning-in activity yang digunakan sebelum siswa diajak masuk ke pembahasan topik pengajaran. Siswa akan mengenal skill baru serta mendapatkan preliminary knowledge yang akan dipertajam dalam kegiatan instruksional yang human-based di dalam kelas. Dengan demikian, guru akan lebih mudah menjelaskan topik bahasan karena siswa sudah memiliki pengetahuan awal tentang apa yang akan dibahas di dalam kelas. Misalnya melalui permainan-permainan jenis solitaire yang memungkinkan siswa mempelajari skill awal tentang operasi hitung yang akan dipertajam lagi melalui pendekatan human-based kemudian.

2. Sebagai reinforcement yang digunakan setelah guru selesai dengan pembahasan interaktif yang bersifat human-based. Siswa akan mempertajam pengetahuan yang telah didapatkan melalui permainan-permainan yang berkaitan dengan topik yang telah dipelajari seperti misalnya permainan Add’em Up, Make 15,dan Make 24.

3. Sebagai assessment yang digunakan untuk mengukur sejauh mana siswa menguasai prosedur dan strategi matematis berkaitan dengan topik yang telah dipelajari misalnya permainan Count the Cubes. Guru bahkan dapat menggunakan keberhasilan terhadap pengoperasian permainan-permainan ini sebagai catatan pencapaian pemahaman siswa atas topik yang sedang dipelajari.

4. Sebagai alternatif kegiatan yang mengarah pada educational entertainment. Adakalanya siswa merasa jenuh dengan kegiatan instruksional yang bersifat human-based. Melalui permainan-permainan yang ada, siswa mendapatkan hiburan yang dengan sadar atau tanpa disadari juga berguna untuk memperkuat skill matematis dasar mereka misalnya permainan Four Piece Tangram.

V. Kesimpulan
Demikianlah, Math games yang dapat diakses dalam www.primarygame.com dapat memberikan beberapa fungsi yang akan menunjang kegiatan instruksional di dalam kelas. Namun dalam hal ini, guru harus mampu memilihkan jenis permainan yang sesuai dengan topik pengajaran di dalam kelas. Selain itu, guru juga harus menetapkan fungsi yang akan dipakai melalui permainan tersebut. Hal ini akan memberikan manfaat yang lebih terhadap penguasaan siswa atas topik pengajaran yang dibahas.

VI. Referensi
1. Dewey, J. “Democracy and Education”, New York: Macmillan, 1994.
2. Oblinger, Diana. “Simulation, Games, and Learning”, Boulder, CO: EDUCAUSE, May 2006, http://www.educause.edu/ir/library/pdf/ELI3004.pdf.
3. Prensky, M. “Digital Game-based Learning”, New York: McGraw-Hill, 2001
4. Rowntree, D. “Designing the Learning: Modes and Media” Educational Technology in Curriculum Development, London: Harper and Row, 1974.

Mereposisi Pendidikan Nasionalisme

Bulan Agustus (yang akan tiba sebulan lagi) merupakan bulan yang sangat spesial bagi para pelajar di Indonesia. Selain (mungkin) sekolah mereka mengadakan upacara bendera untuk memperingati hari kemerdekaan negara Indonesia, mereka juga biasanya akan merayakannya dengan mengikuti banyak perlombaan untuk menambah kemeriahan dirgahayu Republik Indonesia. Namun ironisnya, perayaan hanyalah sebatas perayaan seremonial tahunan yang tidak mampu menumbuhkan semangat nasionalisme kepada para pelajar. Perayaan tersebut lebih pada mengingatkan kembali kenangan tentang peristiwa proklamasi tanpa disertai upaya untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan yang teguh. Semangat nasionalisme para pelajar Indonesia semakin hari semakin mengalami dekadensi. Rasa cinta tanah air dan bangsa semakin surut dalam realita kehidupan anak bangsa itu sendiri.

Sekolah sebagai salah satu sarana pembentukan nilai-nilai bagi para peserta didiknya dapat dilihat sebagai sebab sekaligus harapan akan surut dan pasangnya nilai nasionalisme pada anak-anak negeri. Sebagai sebab karena sekolah kurang mampu memainkan perannya dalam pemupukan nasionalisme bagi para siswanya. Sebagai harapan karena sekolah merupakan ruang yang paling strategis untuk membentuk manusia-manusia Indonesia yang memiliki cinta nyata kepada negerinya.

Perjalanan nasionalisme untuk mendapatkan di hati rakyat Indonesia dewasa ini juga semakin mendapatkan banyak tantangan. Beberapa di antaranya adalah lebih kuatnya rasa primordialisme ataupun internasionalisme dari pada nasionalisme. Selain itu, metode pendidikan nasionalisme yang kurang tepat dilakukan oleh kebanyakan sekolah di Indonesia.

Nasionalisme vs primordialisme
Tidak bisa dipungkiri bahwa bangsa Indonesia menyimpan begitu banyak perbedaan yang ada di dalam masyarakatnya. Dari mulai perbedaan kesukuan, geografis, agama, politis ataupun kategori pengelompokkan lainnya. Banyak orang masih lebih mengikatnya diri pada kepentingan kelompoknya lebih dari kepentingan bangsa. Isu-isu sensitif menghadirkan sentimen-sentimen antar kelompok yang mengakibatkan orang cenderung melupakan semangat nasionalisme. Konflik-konflik SARA terjadi begitu mudahnya. Semangat Bhinneka Tunggal Ika layu dan bahkan tergusur oleh semangat primordialisme yang berlebihan.

Nasionalisme harus segera bangkit mengungguli primordialisme jika bangsa ini tidak ingin berlarut dalam gesekan-gesekan kelompok yang kontra produktif bagi kemajuan dan pembangunan Indonesia. Masyarakat harus kembali kepada semangat Bhineka Tunggal Ika yang mensyaratkan adanya kerukunan di antara semua golongan untuk membangun bangsa ini.

Nasionalisme vs internasionalisme
Nasionalisme juga semakin tergeser oleh paham internasionalisme yang bergulir seturut dengan kemunculan revolusi teknologi informasi dan globalisasi yang memudahkan orang untuk mempunyai akses untuk terhadap isu-isu internasional. Nasionalisme menjadi hal yang semakin tidak populer ketika manusia seolah-olah semakin tidak terikat oleh ruang dan waktu. Ditambah lagi, situasi dan kondisi bangsa yang dilihat secara apriori oleh masyarakatnya sendiri sebagai bangsa yang sering diterpa berbagai masalah. Celakanya, banyak orang Indonesia sendiri kemudian membandingkan Indonesia dengan negara-negara lain tanpa adanya perasaan bangga dan cinta tanah air.

Internasionalisme seharusnya terbentuk setelah nasionalisme itu sendiri terbentuk dalam diri seseorang. Bukan sebaliknya, internasionalisme dipilih untyuk menggantikan nasionalisme yang diangaap sudah usang dan tidak berdaya.

Pendidikan kognitif vs afektif
Pendidikan yang ditawarkan sekolah seharusnya mampu menjawab permasalahan tersebut dengan mereposisi ranah pendidikan nasionalisme. Nasionalisme seringkali disangka akan muncul secara otomatis ketika siswa mampu menghafal serta mengulas pelajaran-pelajaran sejarah dan mengenal budaya bangsa Indonesia. Metode pembelajaran yang seperti ini hanya berada di ranah kognitif yang menempatkan nasionalisme sebagai pengetahuan yang harus dihafal dan dimengerti.

Sudah sangat umum bahwa guru mengajarkan pengetahuan tentang nasionalisme dengan menjelaskan kepada siswa tentang sejarah kebangsaan. Selanjutnya, siswa diminta untuk menghafal ataupun memahami topik-topik pelajaran yang sedang dibahas. Ukuran kesusksesan siswa adalah nilai yang baik di dalam rapor berdasarkan kemampuan mereka untuk menceritakan kembali ingatan mereka tentang cerita kebangsaan tersebut.

Nasionalisme haruslah lebih dari sekedar pengetahuan. Nasionalisme merupakan sebuah kesadaran yang terbangun karena akal dan rasa berpadu. Pendidikan nasionalisme harus bertumpu pada ranah afektif yang terus menerus dipupuk pada siswa sehingga mereka mencapai tahap internalisasi yang membuat mereka mampu menjadi nasionalis-nasionalis yang mampu membawa Indonesia ke dalam percaturan dunia internasional.

Implementasi dalam pendidikan
Pendidikan nasionalisme dalam ranah afektif merupakan sebuah keharusan dalam pemupukan semangat cinta tanah air dan bangsa bagi para siswa. Dalam hal ini, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan pihak sekolah sebagai upaya untuk mereposisi pendidikan nasionalisme.

1. Pengintegrasian nilai-nilai nasionalisme ke dalama kurikulum sejak pendidikan anak usia dini.
Sudah saatnya nilai-nilai nasionalisme kembali mendapatkan porsi yang lebih kentara dalam pendidikan nasional kita. Seyogianya, anak-anak sejak usia dini sudah mulai diperkenalnya dan ditumbuhkan semangat cinta tanah air dan bangsa melalui kegiatan-kegiatan pembelarajan. Para siswa sejak usia dini mulai berkenalan dengan budaya Indonesia. Guru-guru mengintegrasikan nilai-nilai nasionalisme melalui pelajaran-pelajaran yang mereka ampu. Sama halnya dengan pendidikan moral, semua guru mempunyai tanggung jawab untuk menumbuh kembangkan semangat nasionalisme kepada para siswa.

2. Metode pembelajaran nasionalisme yang lebih menekankan ranah afektif daripada kognitif.
Keberhasilan pendidikan nasionalisme bukan dilihat dari kemampuan siswa untuk mengingat kembali pelajaran-pelajaran yang telah diberikan. Namun, keberhasilan pendidikan nasionalisme harus terefleksi dalam sikap dan perilaku siswa yang mencerminkan semangat kebangsaaan dan cinta tanah air. Nasionalisme lebih pada rasa dan bukan semata pengetahuan belaka.

Pendidikan nasionalisme tanpa upaya untuk membantu siswa menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya hanyalah sebuah kesia-siaan. Yang dibutuhkan bangsa ini, sebagai contoh, adalah bukan orang yang mampu menyebutkan nama-nama tokoh atau pahlawan Indonesia. Namun orang yang mampu menghargai upaya para pahlawan yang selanjutnya menginspirasinya untuk melanjutkan perjuangan membangun bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Penutup
Peran sekolah menjadi sangat krusial dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme pada para siswanya. Sekolah harus mampu menempatkan pendidikan nasionalisme pada ranah yang tepat yaitu pembangkitan rasa untuk memastikan bahwa siswa tidak hanya mengenal arti nasionalisme tetapi memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan semangat nasionalisme.

Perayaan 17 Agustus-an di sekolah-sekolah merupakan momen yang sangat strategis untuk dipakai sebagai sebuah upaya menumbuhkan kesadaran nasionalisme bagi para peserta didik di Indonesia yang sudah mulai pudar. Perayaan bukanlah sekedar kegiatan seremonial semata, namun lebih pada momen untuk berefleksi untuk mereposisi pendidikan nasionalisme dalam upaya peneguhan kembali rasa cinta tanah air sebagai bakti terhadap bumi pertiwi. Jayalah terus Indonesia!

Menjadi Profesional Demi Generasi Mendatang

Melelahkan memang, menyimak berita-berita tentang penyimpangan etika profesi yang sering terjadi di negeri ini. Setiap bidang mempunyai cerita tentang bagaimana seseorang yang sebenarnya diharapkan mampu menjadi profesional (atau ahli di bidang pekerjaannya) ternyata melakukan distorsi profesionalisme. Di bidang hukum, kasus suap menyuap terjadi di kalangan penegak hukum. Di bidang politik, para politisi berslogan demokratisasi namun senyatanya melakukan agitasi, korupsi, dan manipulasi. Di bidang pendidikan, terdapatnya kasus-kasus pemukulan guru terhadap para muridnya. Di bidang kesehatan, ada dokter melakukan mal praktek. Di bidang seni, plagiarisasi atas hasil karya seni orang lain. Dan masih banyak lagi dapat kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari bagaimana orang yang seharusnya mampu menjalankan peran profesionalisme dalam profesinya masing-masing namun yang terjadi adalah penyimpangan dari jalur etika profesionalismenya sendiri. Tulisan ini tidak bermaksud mengungkap dampak etis, yuridis, ekonomis ataupun yang lain namun lebih mengkhususkan pada tilikan edukasi mengenai ekses yang ditimbulkan bagi generasi mendatang.
Profesionalisme berasal dari kata dasar profession yang, menurut Oxford Advanced Learner’s Dictionary (2000), berarti “a type of job that needs special training or skill, especially one that needs a high level of education”, sedangkan professionalism sendiri memiliki arti “the high standard that you expect from a person who is well trained in a particular job”. Dalam pengertian tersebut jika seseorang menjadi profesional dapat artikan bahwa dia mengerti dan memahami benar bidang yang dia geluti serta mampu menjalankan peran, tugas dan tanggung jawabnya dalam bidang tersebut dengan keahlian dan kecakapan yang optimal.
Dalam konteks pendidikan formal di Indonesia, usaha-usaha untuk mempersiapkan peserta didik menjadi seorang yang profesional secara formal sudah mulai dilakukan sejak bangku sekolah menengah atas. Sekolah Menengah Umum menjuruskan siswa-siswinya di kelas tiga ke dalam jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Bahasa. Terdapat juga sekolah-sekolah kejuruan yang memfokuskan telaahnya dalam disiplin ilmu tertentu. Dari semua hal tersebut, kita berandai-andai bahwa kelak lulusan atau para peserta didik mampu mendapatkan bekal disiplin ilmu khusus yang mampu menjadikan mereka seseorang yang profesional di bidangnya masing-masing.
Albert Bandura (1991) melalui teori kognitif sosialnya menyebutkan pentingnya modeling dalam proses belajar mengajar sehingga proses pemerolehan informasi yang didapat dalam kajian ilmu tertentu dapat lebih mudah dicerna dan dimantapkan melalui observasi langsung terhadap lingkungan sosialnya (orang lain). Proses pembelajaran terjadi melalui interaksi peserta didik dengan lingkungan sosialnya melalui pengamatan seorang model. Seorang yang sedang belajar tentang perbuatan baik, misalnya berbuat jujur, akan lebih mudah menginternalisasikan nilai-nilai kejujuran dalam kognisinya serta berimbas pada perilaku untuk selalu berbuat jujur jika lingkungannya (keluarga, sekolah dan masyarakat) mencerminkan nilai-nilai kejujuran dalam perbuatan kesehariannya. Para pendidikpun (guru, orang tua atau siapapun yang berperan) akan juga lebih mudah menanamkan nilai-nilai kejujuran tersebut serta mengajarkan bagaimana melakukan perbuatan jujur karena banyak model yang dapat diambil di lingkungannya sebagai cerminan orang-orang jujur.
Dalam konteks dinamika kehidupan di Indonesia seperti yang disebutkan di awal tulisan ini bahwa begitu banyak orang yang melakukan distorsi profesionalismenya dalam bidang mereka masing-masing, mempunyai ekses negatif terhadap pembentukan karakter serta profesionalisme para peserta didik yang sekarang tengah menjalani proses persiapan untuk menjadi seorang profesional pada waktunya kelak. Distorsi tersebut memberikan sebuah modeling yang salah tentang bidang yang mereka geluti sehingga memungkinkan akan terjadinya sebuah distorsi yang sama pada generasi yang berbeda.
Kasus-kasus pemukulan guru terhadap para siswanya, misalnya, akan memunculkan pertanyaan fundamental apakah memang pemukulan bagian dari metode guru dalam mendidik para siswanya? Ketika kasus suap menyuap terjadi di kalangan para penegak hukum, apakah memang suap bagian integral dalam dunia para penegak hukum? Ketika para politisi melakukan korupsi, apakah korupsi merupakan bagian dari dinamika kehidupan politik?
Memang, tidak setiap orang akan mengadopsi begitu saja dalam memandang distorsi tersebut sebagai model. Dituntut maturasi yang memadai secara akademik maupun moral untuk tidak meniru negative modeling yang ada dan tetap berada di jalur profesionalisme yang benar. Namun ketika lingkungan tidak mampu memberikan model yang benar untuk menuju profesionalisme, peran pendidik diperlukan untuk memberikan kontrol dan arah serta menegasikan negative modeling sehingga peserta didik tidak terbiarkan terperosok ke dalam distorsi yang menyesatkan.
Ditilik dari perspektif edukasi, menjadi profesional apapun bidang yang digeluti merupakan urgensi yang perlu dilakukan untuk memberikan pendidikan yang baik bagi generasi mendatang melalui positive modeling. Niscaya, generasi distorsi profesionalisme akan tergantikan oleh generasi yang benar-benar profesional yang mampu memberikan kontribusi yang positif bagi lingkungan, masyarakat serta negara melalui bidangnya masing-masing. Para pendidik akan dengan penuh bangganya mengatakan, “Jika kamu ingin sukses di bidang ini, maka contohlah dia yang begitu meresapi nilai-nilai profesionalisme yang tercermin dalam pekerjaannya.” Semoga kita mampu menjadi “dia” yang begitu profesional sehingga kita mampu memberikan pendidikan yang baik bagi generasi mendatang.


Daftar Pustaka
Bandura, Albert. Social Cognitive Theory of Moral Thought and Action. Connecticut: Stanford University, 1991.
Gredler, Margareth E. Learning and Instruction: Theory and Practice. New Jersey: Merill Prentice Hall, 2001.
Hornby, A S. Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Oxford: Oxford University Press, 2000.

Rabu, 13 Juli 2011

Berpikir Kreatif Ala Bloom


Di tengah jebakan macet lalu lintas Jakarta, seorang anak bertanya pada sang ibu. “Ma, kenapa sih kok jalanan selalu saja macet?” Jawab sang ibu, “Menurut Dedek kenapa?” Sang anak sejenak merenung kemudian berkata, “Mungkin terlalu banyak mobil yang lewat ya Ma. Mobilnya gede-gede lagi Ma.” Sang ibu melanjutkan, “Iya juga sih Dek. Habis kalo tidak pakai mobil mau naik apa?” “Kenapa tidak mobilnya diperkecil saja Ma biar tidak makan tempat.” Sang ibu kemudian memancing, “Sekarang coba Dedek pikirkan kendaraan yang tidak membuat macet.” “Dedek mau buat kendaraan pribadi yang bisa terbang Ma.” “Wah bagus itu. Mama punya kertas dan pensil. Coba sekarang Dedek gambarkan kendaraan ciptaan Dedek.” Kemudian sang anak mulai sibuk manggambar kendaraan khayalannya.

Pada tahun 1956, seorang pakar psikologi pendidikan dari Amerika, Benjamin S. Bloom, dalam teori pendidikannya membuat klasifikasi proses berpikir manusia berdasarkan tingkat kemampuan kegunaannnya yang selanjutnya dikenal dengan Taxonomi Bloom. Orisinalitas teori ini mampu bertahan selama 50 tahun yang kemudian oleh bekas muridnya, Lorin Anderson, pada tahun 1990 direvisi dan diperjelas lagi.
Taxonomi Bloom yang telah direvisi tersebut dapat dijelaskan secara singkat seperti berikut:
1. Remembering (Menghafal)
Kemampuan untuk mengulang atau menyampaikan kembali informasi yang telah didapatkan sebelumnya dengan cara mengingat kembali informasi yang telah tersimpan dalam memori.
2. Understanding (Memahami)
Kemampuan untuk menggunakan informasi yang telah terekam dalam memori untuk memberikan contoh, ringkasan, mengelompokkan atau menjelaskan kembali.
3. Applying (Menerapkan)
Kemampuan untuk menginterpretasikan menggunakan informasi atau konsep pengetahuan yang telah didapat dalam memecahkan persoalan yang relevan dengan jenis pengetahuan yang telah diterima.
4. Analysing (Menganalisa)
Kemampuan untuk menjabarkan secara detail atas konsep pengetahuan yang telah diterima.
5. Evaluating (Mengevaluasi)
Kemampuan untuk memberi penilaian berdasarkan kriteria dan standar melalui pemeriksaan serta kritik.
6. Creating (Mencipta)
Kemampuan untuk mengorganisir elemen-elemen sehingga membentuk suatu kesatuan fungsional yang akhirnya mampu merumuskan dalil-dalil atau pola-pola baru.


Tingkat berpikir nomor 1 hingga 3 disebut sebagai tingkat berpikir rendah (lower order thinking levels) sedangkan nomor 4 hingga 6 disebut sebagai tingkat berpikir atas (higher order thinking levels).

Kelemahan proses pendidikan, baik formal maupun informal, yang biasa kita jumpai adalah ketika proses pendidikan tersebut hanya diarahkan pada tingkat berpikir yang rendah (nomor 1-3). Sering kita jumpai pada proses belajar mengajar siswa hanya diberi catatan dan kemudian diminta menghafal mati apa yang sudah diajarkan. Atau, siswa hanya diberi rumus-rumus serta seperangkat teori tanpa diarahkan untuk menggali kemampuan berpikirnya untuk menemukan pengetahuan-pengetahuan baru. Proses pendidikan seperti ini hanya akan membuat siswa mampu menghafal dan mengingat pelajaran tanpa proses internalisasi materi pelajaran yang kuat serta membatasi daya kreasinya.
Idealnya, seorang anak dalam proses pendidikannya, dimanapun juga, diarahkan pada kemampuan berpikir di level yang atas (nomor 4-6). Pendidikan kreatifitas anak pada dasarnya tidak melulu membutuhkan biaya mahal (bahkan sering kali bisa dibuat tidak perlu biaya jika kita paham bagaimana cara melakukannya) dan bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun juga.
Pada ilustrasi di atas digambarkan daya kritis seorang anak muncul ketika dia dihadapkan pada situasi terjebak kemacetan lalu lintas. Sang ibu dengan sangat baik berhasil memberikan stimulus kepada anak yang pada akhirnya mengarahkan anak tersebut pada proses berpikir secara analitis, evaluatif dan kreatif. Bagi orang dewasa mungkin hal tersebut terkesan khayal dan mengada-ada, namun hakekatnya pada tahap perkembangan pola pemikiran usia anak-anak, hal tersebut menunjukkan kemampuan anak untuk memvisualisasikan kreatifitasnya.
Di era revolusi teknologi informasi sekarang ini, dimana arus globalisasi dirasa sudah tak terbendung lagi, kreatifitas menjadi modal utama untuk tetap survive. Ketika kreatifitas seseorang tidak dibiasakan dibangun pada usia dini, seorang anak akan tumbuh tanpa kemampuan untuk melihat peluang serta memanfaatkan peluang untuk menghasilkan sesuatu yang positif. Tanpa kemampuan berpikir kreatif, lambat laun orang akan tergantikan dengan tenaga mesin. Perhatikan betapa sekarang penggunaan sms serta email mampu menggantikan peran Pak Pos untuk mengirimkan surat. Atau juga dimana sekarang mesin ATM yang semakin tersebar luas telah manggantikan peran Teller.
Adalah menjadi tugas orang-orang dewasa (baca: orang tua dan guru) untuk membantu proses pembentukan kebiasaan berpikir kreatif (creative thinking habit) pada seorang anak. Dengan membiasakan diri memberikan stimulus-stimlus kepada anak yang mengarah pada higher-order thinking level, niscaya anak akan tumbuh dengan kemampuan analisis yang sistematis dan kreatif yang pada akhirnya akan menjadi modal ketika tumbuh dewasa dan masuk pada dunia kerja yang kompetitif.

“Ma, kenapa sih Gerombolan Siberat dalam komik Donal Bebek selalu suka mencuri dan berbuat jahat?” “Dedek maunya yang seperti apa?” “Dedek maunya Gerombolan Siberat bertobat dan berbuat baik Ma.” “Sekarang begini aja, Mama ada kertas dan pensil, Dedek buat cerita sendiri tentang Gerombolan Siberat seperti maunya Dedek”. Sekali lagi sang anak tenggelam dalam dunia kreasinya untuk menciptakan dunia baru berdasar perenungan evaluatif dan kreatifnya.

Children Learn What They Live (Anak Belajar Dari Kehidupannya)


Children Learn What They Live (Anak Belajar Dari Kehidupannya)
oleh Dorothy Law Nolte

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah.
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mengasihi.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi.
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan.
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan kasih dalam kehidupan.
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar damai dengan pikiran.


Teaching children Science at home

Teaching children Science can be equally interesting as learning Science itself. Since Science covers topics which concern the natural world and things around us, in other words, both teachers and students can have fun to explore this matter.
This short writing is aimed to expose some considerations for parents on how to help children learn basic pedagogical Science applications at home.
Teaching our children Science is time-free as well as room-free. It means that it can be done anywhere and anytime. In terms of learning, home is one of the resourceful places where children can build up their scientific inquiries, curiosities and skills. For this reason, the role of adults, especially parents, is very essential.
We might question ourselves if we are competent enough in teaching our children Science at home. In fact, this attempt does not require formal academic titles in the field of Science. This just needs our willingness and patience to cater and engage our children to question, explore, investigate and experiment in the world of Science.
We do not need to worry whether or not it might cost a lot of money. Learning Science means exploring things and investigating happenings around us. Some of the skills and experimentations can be simply done in our daily endeavors. Like for instance, in the kitchen where and when mothers are cooking and serving food. Have the children observe the materials used for cooking and have them find out why those materials are chosen and necessary. Let them know and identify the names of such materials. Introduce as well the functions and how to use it effectively and efficiently. A lot of things or happenings at home can be meaningful resources for the children to explore and investigate. We do not even need a special Science laboratory or library to teach our children at home.
Below are some considerations which parents can take into account when teaching the children Science at home.
1. Learning Science is not just memorising information, but developing skills and nurturing attitudes.
Science covers three domains of learning. These are knowledge, skills and attitudes.
A. Knowledge is the important information used as reference when dealing with scientific question or problem.
B. Skills are the ability to explore the natural world scientifically. Some of those are comparing, observing, identifying, predicting, investigating, evaluating,  analysing and so on.
C. Attitudes are the qualities that are important to possess by scientists to achieve success. To name some, we take into greater account integrity, creativity, perseverance, curiosity, objectivity and so on.
Therefore, when teaching Science, we do not just ask children to memorise information. As much as possible, have them experiment or do by themselves to find out how things work. Application of knowledge is more important than understanding the concept. This may help them develop those three domains above completely.

2. Focus the topic of exploration on things children can observe using their senses
Children learn best through doing. They find difficulty to grasp abstract concepts or ideas. Therefore, the best thing to do is let them experience the pressures and dealings of the world around them using their senses. Have them see, hear, touch, taste and smell things around them rather than telling them how things look like, sound, feel, taste and smell. Accompany the children to observe things around them. Stimulate them to find out how things work on their own. Act as a facilitator, not only a source of information. Guide them to draw conclusion by them selves. Accept failures and precaution them that generally, first attempt is normally not a successful one. It is in failing that one can obtain perfection.

3. Help children develop their curiosity and inquiry.
By nature, children are curious about how things around them work. We can observe them asking lots of questions everyday. Do bear in mind that we are not supposed to get bored to answer those questions. This seems very simple but might bring about big impact when we discourage our children to address their queries to us by telling them that we are tired to answer their questions. It may kill their curiosity and inquiry. In fact, those are the basic attitudes that children must have to deal with the world of Science. However, we do not need to always provide the exact answers of certain questions but rather challenge them to try to find out the definite answers by themselves with proper guidance.

4. Provide an access of information resources.
This is very closely related to the previous point. Providing an access of information resources is a way to help children to find out answers of their questions by themselves. The information resources can be other persons, books, internet and so on. Once children are given an access to those information resources and told how to use them, they might be able to gather information as much as possible to help them support their scientific investigation. However, those resources are good-to-have but not must-have ones. Those who do not have those resources at home, parents can encourage the children to use the resources provided by school. This might just lengthen the duration of exploration process on a particular topic.

5. Use right teaching strategies.
Generally, children love to experiment. As mentioned earlier, they learn best through their senses. It is fruitful and exciting if we can provide hands-on activities when teaching the children. However, we should know our children’s learning behaviors whether they are visual, auditory or kinesthetic learners. This will greatly help us in providing them with the most suitable activities to learn. In this case, parents are encouraged to discuss the right strategy with the children’s respective teachers.

Teaching children Science at home can also be a good opportunity for parents to get more involved in children’s learning environment as well as knowing their attitudes. This is one way of conducting direct learning and behavioral assessments. Through this, parents are given best insights on how their own children engage in a certain activity.

Appreciation is an important motivating factor. We should learn to apply this value. Children will find it more fun when their efforts and achievements are acknowledged by others, especially by parents and teachers or even with friends.

I personally believe that good education is determined by three main factors. These are the school, home and students themselves. These must work hand in hand to strive for the betterment of the children’s future.

Let’s do it.

Sebuah awal

Saya percaya bahwa manusia hidup tak pernah berhenti belajar. Sebagaimana nge-blog yang saya mulai lakukan ini adalah bagian dari proses pembelajaran saya (baca: sebelumnya sangat gaptek). Profesi guru, lebih tepatnya rencana proyek e-portfolio yang ingin saya terapkan ke murid-murid saya, membuat saya mau tidak mau harus belajar nge-blog supaya tahu apa yang akan saya minta ke murid-murid lakukan.
Begitulah... I might need helping hands from you readers to improve my skills in blogging as I am new in this field.
Kembali lagi ke profesi sebagai pendidik, blog ini akan saya gunakan lebih banyak untuk sharing dan berdiskusi tentang isu-isu pendidikan. Harapannya (seorang guru selalu pandai berharap!) akan banyak sharing process tentang bagaimana pendidikan yang efektif dan (setidaknya mendekati) ideal bagi anak-anak bangsa.

Good luck for myself :)